Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional di Sanggar Belajar Ampang, Malaysia, melalui program bertajuk “Pendampingan Penerapan Augmented Reality (AR) sebagai Upaya Peningkatan Rasa Cinta Tanah Air.” Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran bagi anak-anak migran Indonesia sekaligus menanamkan nilai nasionalisme melalui pemanfaatan teknologi pendidikan.
Sanggar Belajar Ampang merupakan lembaga pendidikan nonformal di bawah naungan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia yang memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak migran Indonesia. Selama ini, proses pembelajaran masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan media pembelajaran, kompetensi guru, serta belum optimalnya penerapan pembelajaran yang interaktif dan inklusif.
Melalui program pengabdian ini, tim UMS memperkenalkan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) yang dipadukan dengan modul pembelajaran digital tematik. Kegiatan diawali dengan observasi kebutuhan, dilanjutkan pelatihan bagi guru dan relawan mengenai pembelajaran inovatif dan pemanfaatan teknologi AR, kemudian pendampingan implementasi di kelas serta evaluasi hasil pembelajaran.
Dalam praktiknya, anak-anak belajar menggunakan kartu marker yang dipindai melalui telepon pintar sehingga memunculkan objek tiga dimensi yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Pendekatan ini menjadikan proses belajar lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Selain mengenalkan simbol-simbol kebangsaan Indonesia, media AR juga mengajak peserta didik berdiskusi, bercerita, dan menyelesaikan proyek sederhana yang menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Ketua tim pengabdian menjelaskan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu pembelajaran, tetapi juga media untuk membangun karakter anak. “Melalui pembelajaran berbasis Augmented Reality, anak-anak migran tidak hanya memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga semakin mengenal budaya, simbol negara, dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia,” ujarnya.
Program ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi guru dan relawan. Mereka memperoleh pengalaman dalam merancang pembelajaran yang lebih inovatif, inklusif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Selain itu, media pembelajaran digital yang dikembangkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai sumber belajar di Sanggar Belajar Ampang.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Anak-anak aktif mengikuti pembelajaran, berdiskusi, serta mencoba teknologi AR yang menghadirkan pengalaman belajar baru. Guru dan relawan pun menyampaikan bahwa penggunaan media digital mampu meningkatkan motivasi belajar serta mempermudah penyampaian materi kepada peserta didik.
Selain menghasilkan inovasi pembelajaran, kegiatan ini semakin memperkuat kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Surakarta, PCIM Malaysia, dan Sanggar Belajar Ampang dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Sinergi tersebut diharapkan menjadi model pengembangan pendidikan komunitas berbasis teknologi yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui pengabdian internasional ini, UMS kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat, sekaligus memperluas kontribusi perguruan tinggi Indonesia dalam mendukung akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak Indonesia di luar negeri.

